Travelling with Teens | From Bonding to Brain Growth

Travelling bersama anak atau liburan keluarga selalu memiliki tantangannya tersendiri. Kalau dengan anak bayi balita pastinya ribet karena bawaannya banyak dan mood-nya susah ditebak. Kalau pas rewel karena tidak enak badan atau mengantuk maka perjalanan bisa jadi tambah stres dengan tangisan.

Nah, bagaimana kalau dengan anak yang sudah beranjak besar?

Sebenarnya mereka adalah travelling partner yang lebih menyenangkan dan secara nyata kita sebagai orang tua dapat memberikan kegiatan berlibur yang bermanfaat. Berikut ulasan manfaat liburan bagi anak dan bagaimana meningkatkan keterlibatan anak dalam kegiatan berlibur.

Family Bonding

People need bonding.

Banyak orang tua yang menyatakan tidak memiliki waktu bersama anak dikarenakan kesibukan sehari-hari. Kadang saat bersama hanya dihabiskan malam hari untuk sekedar bertanya tentang kesibukan sekolah. Weekend time habis ke mal untuk makan atau nonton bareng.

But have we really talked to our children?

Or even more, have we listened to them?

Liburan adalah saat yang tepat karena tidak ada kegiatan rutin yang biasanya menjadi penghalang komunikasi. Orang tua tidak bekerja, anak tidak sekolah dan les. Semua bisa duduk bareng, ngobrol, dan bermain bersama. Yes, berlibur adalah salah satu cara meningkatkan bonding dengan anak remaja.

Tentang apa?

Anything. Tidak harus ada agenda tertentu. Pastinya ada waktu untuk mendengarkan. Tidak harus terburu-buru.

It reminds me of a time of our first family holiday.

Sebenarnya bukan first kayaknya ya. Maybe kedua. Saat itu baru ada kakak yang berusia hampir 2 tahun. Kita berlibur ke Kuala Lumpur bertiga saja selama 5 hari. Tiket dan hotel dipesan di biro travel (Ya iyalaahh…. Tahun berapakah itu? Hihihi). Jadi berangkat ga banyak persiapan seperti sekarang sudah browsing lengkap. Apalagi ada web sejenis skyscanner (www.skyscanner.co.id) yang lengkap kap kap. Pesan tiket hotel ga pakai bingung, ga pakai susah. Semua tinggal klik dan info tersedia sampai perbandingan antar tanggal. Life is so much easier now ya with technology.

Anyway, yang teringat dari liburan itu sampai sekarang adalah how it was just the three of us selama 5 hari.

Termasuk semuanya.

Ya, naik bis dari bandara dan Kakak muntah di jalan.

Ya, turun dari LRT ke hotel tapi ga ada eskalatornya ternyata dan we have to juggle a large suitcase and a stroller. The dad got the struggle in this case since I got to carry Kakak down the stairs. Haha.

Ya, kita maksa ke KLCC tapi entah kenapa kok ga sampe-sampe and have to walk like miles. Lap keringet.

Ya, Kakak sakit di sana dan harus ke RS malem-malem naik taksi ternyata RS-nya model RSCM yang nunggu banget sama sejuta orang lain (ga sejuta sih tapi banyak deh rasanya).

Ya, how it was 5 interrrupted days with just us. Ga ada kantor, ga harus masak dan beberes rumah, ga harus ada jadwal tertentu.

And I felt that that was the time my husband spent so much time with our daughter. Usually he is away at work and sometimes we were separated for some days when I visit my mom in Jakarta while he was working in Palembang at the time.

Learn More

Tapi apa sih manfaatnya untuk anak selain bonding? Ketidakpastian saat berlibur ternyata mengajarkan banyak hal juga loh.

  • Anak tidak mudah menuntut karena menyadari bahwa liburan itu serba tidak pasti walau perencanaan sudah menyeluruh banget. Tidak semua keinginan bisa jadi kenyataan.
  • Anak dapat belajar toleransi dan bersabar selama perjalanan. Banyaknya jumlah rombongan juga berpengaruh. Makin banyak personilnya maka makin banyak dosis pil sabar yang harus ditelan (baik orang tua maupun anak nih). Keinginan dan kebiasaan setiap orang berbeda-beda. Ada yang lelet, ada yang tepat waktu, ada yang males beberes, ada yang doyan shopping, ada yang hobi selfie, wah banyak deh. Kuncinya jadilah lebih fleksibel dan lower your expectations. 

Read more tentang Traveling Bareng Keluarga Apa Manfaatnya ditulis oleh Hidayah Sulistyowati sebagai post trigger #KEBloggingCollab untuk kelompok Butet Manurung.

Hidayah Sulistyowati, seorang blogger yang tinggal di Semarang. Menuliskan ceritanya di blog www.hidayah-art.com  dengan tagline ‘Untaian Kata untuk Berbagi.

Health benefits

Travelling pastinya membuka wacana pikiran anak. Tentang tempat lain selain tempat tinggal dan kesehariannya. Anak dapat belajar kuliner lokal, bahasa yang berbeda, juga tempat wisata yang menarik.

Why is it important?

Studi menunjukkan bahwa travelling meningkatkan brain growth  dan creativity.

“From the moment a child is born, its nervous system is developing new connections between every nerve cell, in relation to every new experience,” says Ian Hickie, Executive Director of the Brain & Mind Research Institute.

“Every new sight, every new sound, every new smell causes the brain to rapidly develop synaptic connections, that is connections between the brain cells, to capture that experience.”

The key point is that the experience is ‘new’. And travel is one of the best ways to provide this new experience.

“It’s the new experiences that have the biggest impact. The same experiences just tend to reinforce what’s already known,” says Professor Hickie.

Nah, liburan menyediakan lingkungan dan pengalaman yang “kaya” atau enriched dan ternyata dianggap berhubungan dengan IQ anak.

Enriched environments turn on the genetic expression of key “brain fertilisers” in the frontal lobes, enhancing executive functions such as stress regulation, attention, concentration, good planning and ability to learn, also improving physical and mental health. The brain fertilisers triggered in enriched environments are also associated with higher IQ in children (Gunnell 2005).

Get Involved

Wait!

Sebelum bersiap menuju destinasi liburan berikutnya kita coba juga meningkatkan involvement anak dalam persiapan liburan. Anak yang sudah beranjak dewasa pastinya bisa nih.

Memilih moda perjalanan dan tempat menginap

Hunting tiket asik juga loh. Anak bisa dikenalkan dengan ragam pilihan maskapai atau membandingkan harga tiket pada berbagai tanggal dan jam keberangkatan. Kalau perjalanannya multikota jadi lebih seru karena kerumitannya bertambah. Walau terlihat sederhana kemampuan ini perlu dimiliki sebagai basic skill anak-anak generasi termaju. One of the sites I use is skyscanner karena lengkap informasinya, mudah digunakan, dan gives direct comparison for the prices. Kalau belum pernah, coba deh.

Merencanakan itinerary

Itinerary adalah bagian yang menarik. Anak zaman sekarang sudah tentu tidak gaptek. Mereka bisa diarahkan untuk menggunakan search engine dan melihat pilihan kegiatan yang tersedia di lokasi tujuan liburan. Lalu diajak membuat daftar kegiatan yang mungkin dengan mempertimbangkan beberapa constraint seperti waktu yang tersedia, jarak dari hotel, atau biaya yang dialokasikan.

Menarik bukan? Mereka juga harus bisa menavigasi beberapa situs wisata dengan ulasan atau mencari review restoran. Di kota maju juga termasuk pilihan transportasi dan download peta jaringan transportasi yang tersedia.

Merancang bajet

Sebutlah bajet yang kita sediakan untuk liburan ini dan breakdown-nya. Bantu anak memilah rencana pengeluaran dengan bijaksana walau dana yang tersedia cukup banyak. Tujuannya agar dia bisa mengatur keuangan di perjalanan termasuk bajet makan, jajan, transpor, dan juga oleh-oleh. Bagaimana kalau trip hemat? Atau bahkan backpacking. Bakal lebih kompleks karena harus selalu budget conscious.  Tapi bukan berarti tidak memungkinkan atau tidak fun. Justru anak bisa belajar bahwa untuk berlibur dan bersenang-senang tidak harus membutuhkan dana yang besar.

Mempersiapkan barang bawaan

Susah-susah gampang merumuskan ini. Anak bisa sangat membantu dan bersemangat membuat daftarnya. Berikan batasan jumlah dan gambaran aktivitas liburan agar cocok dengan barang yang disiapkan. Kegiatan selanjutnya adalah memastikan pakaian dan barang yang diperlukan memang sudah dimiliki. Jika belum maka apakah harus dibeli atau dapat meminjam dari teman/keluarga. Saat packing anak dapat terlibat langsung dan orang tua hanya mengecek. Terutama jika anak membawa kopernya sendiri dan dapat memilih barang-barang yang ingin dibawanya.

Now, our family has  grown to a party of five with yearly holiday trips yang menghabiskan sekitar 4-5 hari setiap tahunnya. Ternyata ini kegiatan yang ditunggu oleh anak-anak karena jika ada liburan lain selain itu biasanya hanya 1-2 hari saja. Tujuan wisata biasa tidak sama dan bahkan kalau bisa menggunakan moda transportasi yang berbeda-beda.

 

Who knew that there are so many benefits packed into the short travel time 🙂 temukan cara meningkatkan bonding dengan anak remaja lewat berlibur bersama.

 

Keep reading. Stay fit.

 

 

Fiona, MD

 

Tulisan ini adalah bagian dari KEB  bloggingcollab bersama

www.ophiziadah.com

www.ngiringmelali.com

www.everonia.com

www.hidayah-art.com

Comments

  1. Arni says:

    Traveling bareng keluarga itu asik
    Enaknya kita gak perlu pake jaim-jaiman
    Masalah pasti ada sih, apalagi kalau bawa bocah, tapi dinikmati saja. Kelak yg dikenang adalah kisah manisnya 🙂

  2. weddewi says:

    Bener mba, aku juga berasa meskipun cuma makan malam di luar rumah, tapi justru lebih banyak komunikasi yang terjadi sama orang tua. DIbandingkan di rumah ajah. Good luck mba.

  3. Anindita says:

    Kalau mw liburan, sekarang tinggal perintah si abang buat cari tiket. Lumayan…ngurangi pegel mata. Terus anak saya kasih kesempatan pilih tempat libur & dia dapat tugas cari hal2 yg berkaitan dg kota tujuan

  4. Ophi Ziadah says:

    My girls are teens now… they do love traveling since we did it frequently for several lat years…
    Totally agree with your opinion mba fiona…
    Bahkan berharap one day mrk yg susun n prepare semua saya tinggal
    Ikutan

  5. Asik ya kalo jalan2 sama anak yang lebih besar , lebih bisa diajak kerjasama.

  6. Aku sih suka banget traveling bareng anak, banyak senangnya. Apalagi anak-anak udah besar, bisa ngurus diri sendiri dan jadi teman yang seru di perjalanan 😊

  7. Fiberti says:

    traveling paling enak sama keluarga….ya agak rempong sedikit tapi kenangannya itu lhooo…
    apalagi kalau mereka sudah dewasa…

Leave a Reply to Arni Cancel reply