Perilaku Agresif Remaja dengan Adiksi Video Games

Walau penggunaan komputer dan games secara patologis tidak dianggap sebagai kelainan klinis, berbagai studi telah konsisten menunjukkan bahwa pemain game yang patologis menghabiskan banyak waktu untuk bermain games dan menunjukkan berbagai gejala seperti preokupasi, withdrawal, hilangnya kontrol, dan konflik interpersonal/intrapersonal.

Perbedaan terbesar antara bermain games berlebihan dengan bermain games secara patologis adalah perilaku bermain games berlebihan yang tidak proporsional tetapi tidak problematik. Lain halnya dengan bermain games secara patologis yang didefinisikan sebagai ketidakmampuan persisten untuk mengontrol bermain games berlebih walau mengalami masalah sosial atau emosional (Lemmens et al. 2009).

Secara umum, remaja adalah kelompok usia paling rentan untuk mengalami bermain games secara patologis dibandingkan dengan kelompok usia lainnya (Griffiths et al. 2004; Griffiths and Wood 2000). Remaja pria terutama sangat sering bermain game secara berlebihan dan lebih rentan terhadap bermain games secara patologis dibandingkan remaja wanita (Chiu et al. 2004; Gentile 2009; Grüsser et al. 2005; Ko et al. 2005).

Adanya masalah sosial dan emosional dianggap sebagai ciri penting dalam menentukan adiksi dari hobi yang berlebihan (LaRose et al. 2003). Bagi remaja dan keluarganya, peningkatan sikap agresif adalah konsekuensi paling sering dari bermain games secara patologis.

Sebuah penjelasan yang mungkin adalah bahwa agresi interpersonal adalah konsekuensi dari berbagai sikap adiksi baik adiksi obat-obatan (Giancola et al. 1996), alkohol (Pihl and Peterson 1995), dan judi (Parke and Griffiths 2005). Bagi remaja, defisit dalam kontrol diri, kurangnya refleksi atau insensitivitas terhadap konsekuensi dapat berakibat pada sikap agresif (Atkins and Stoff 1993). Sama halnya, berbagai studi melaporkan bahwa jika orang tua berupaya membatasi anaknya bermain game secara patologis, anaknya akan menunjukkan agresi dan kebencian (Young 2009). Oleh karena itu, sikap agresif pada pemain remaja dapat disebabkan oleh gejala bermain games secara patologis seperti craving terhadap stimulus dan gejala withdrawal ketika mereka tidak dapat bermain.

Penjelasan lain mengapa bermain games secara patologis dapat meningkatkan sikap agresif adalah adanya efek jangka panjang keterlibatan  dengan games yang violent (penuh kekerasan).  Beberapa studi telah mengindikasikan bahwa jumlah waktu yang dihabiskan bermain games yang violent akan meningkatkan sikap agresif (Anderson et al. 2008; Gentile and Gentile 2008; Möller and Krahé 2009). Dengan selalu diapresiasi untuk tindakannya yang penuh kekerasan, pemain mempelajari struktur agresif secara otomatis dan desensitisasi emosional terhadap stimulus kekerasan (Carnagey and Anderson 2005). Bersikap violent saat bermain akan mengajarkan remaja bahwa respon agresif dapat diterima sebagai cara menyelesaikan konflik (e.g., Möller and Krahé 2009).

Beberapa penelitian melaporkan bahwa respon agresi pada anak perempuan akan serupa dengan pada anak laki-laki namun lebih jarang nampak karena memang anak laki-laki yang lebih cenderung bermain games kekerasan.

Saat ini, adiksi video games atau games addiction telah dihubungkan juga dengan masalah pada remaja termasuk depresi dan nilai sekolah yang buruk.Menurut sebuah studi terbaru “Pathological Video Game Use Among Youths: A Two-Year Longitudinal Study,” February 2011 issue of Pediatrics (published online January 17), terdapat identifikasi faktor risiko untuk adiksi pada games dan mengalami outcome yang buruk.  

Studi ini mempelajari lebih dari 3.000 anak usia SD dan SMP di Singapura. Penelitian mengenai bemain games secara patologis termasuk jumlah bermain games dalam seminggu, tingkat impulsiveness, kompetensi sosial, depresi, fobia sosial, ansietas, dan depresi. Prevalensi bermain games secara patologis sama dengan negara lain yaitu sebanyak kurang lebih 9% anak. Anak dan remaja yang bermain games lebih banyak dan memiliki kompetensi sosial rendah dan tingkat impulsiveness yang tinggi memiliki risiko lebih besar untuk menjadi gamer patologis. Para peneliti mengidentifikasi depresi, ansietas, fobia sosial, dan performa sekolah yang buruk sebagai akibat dari bermain games secara patologis.

 

 

dr. Fiona Esmeralda, MM

 

Read more on teen mental health.

Feel free to leave your thoughts :)