Kehalalan Imunisasi

 

Pneumonia dan diare merupakan dua penyebab utama kematian anak di dunia. WHO dan UNICEF telah melaporkan bahwa kedua penyakit ini telah membunuh lebih dari 2 juta anak setiap tahunnya dan menyumbang sebesar 30% dari angka kematian anak usiai di bawah lima tahun. Vaksinasi pneumococcal conjugate vaccines (PCV) dan rotavirus (RV) dapat mencegah kematian sampai dengan 1 juta anak setiap tahunnya.

Adanya unsur babi dalam proses pembuatan dua vaksin rotavirus yaitu Rotateq dan Rotarix telah menimbulkan kebimbangan di kalangan medis dan juga di masyarakat. Selain itu, vaksin polio oral (OPV) yang telah hampir berhasil menghapus penyakit polio secara global menggunakan enzim tripsin dari derivat babi dalam jumlah yang sangat kecil hingga dapat diabaikan.

Sebagai rekomendasi, vaksinasi polio oral hukumnya adalah mubah atau boleh sepanjang belum ditemukannya vaksin lain yang bebas dari enzim tersebut. Untuk saat ini sebagai pilihan adalah IPV yaitu vaksin polio yang diinjeksi yang telah diberikan fatwa halal oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) walau proses pembuatannya menggunakan katalisator dari enzim tripsin babi. Enzim tripsin babi digunakan sebagai katalisator untuk memecah protein dan asam amino yang menjadi bahan makanan kuman. Kuman tersebut setelah dibiakkan kemudian dilakukan fermentasi dan diambil polisakarida sebagai antigen bahan pembentuk vaksin. Selanjutnya dilakukan proses purifikasi yang mencapai pengenceran 1/67,5 milyar kali sampai akhirnya terbentuk produk vaksin. Pada hasil akhir proses sama sekali tidak terdapat bahan-bahan yang mengandung babi.

 

Para ulama mengeluarkan fatwa bahwa vaksin adalah halal karena mereka melihat besarnya manfaat vaksin dalam menyelamatkan nyawa manusia. Di dalam Islam, kaidah-kaidah fikih yang digunakan sangat fleksibel dan semuanya bertujuan untuk menjaga maslahat umat.

 

dr. Fiona Esmeralda, MM

Reviewed by: dr. Siti Aisyah Ismail

 

Sumber:

Kontroversi Imunisasi. Dr Siti Aisyah Ismail, dkk. 2014

Feel free to leave your thoughts :)