What Parents Should Know about Teen Decision Making

Remaja sering dikaitkan dengan pengambilan keputusan yang ceroboh, kurang matang, bahkan salah sama sekali. Looking back, we were also like that . Well, sama seperti juga 99% remaja lainnya. Banyak keputusan yang disesali kemudian. Namun, sekarang sebagai orang tua, kita terdorong untuk melindungi anak-anak, memastikan mereka tidak tergelincir ke arah yang salah, dan akhirnya selamat memasuki dunia dewasa secara bertanggung jawab. Oh, how I wish it is that simple. Ternyata semua berhubungan dengan perkembangan otak remaja yang memang belum sempurna.

Decision Making Counts

Saat ini, kakak di usianya yang 11 tahun memang masih belum sepenuhnya masuk masa remaja. Mungkin masih seperempat atau setengah jalan ke sana, baik secara fisik maupun mental. Tetapi, sejak kecil aku sudah mencatatkan bahwa kemampuan membuat keputusan atau decision making haruslah menjadi salah satu hal yang dia latih.

Why? Coz I am also not good at it. Maybe even up until now.  In my case, analisisku  sederhana, aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Abangku berbeda usia 13 tahun. Jadi rasanya seperti anak tunggal juga at many times karena abang sudah sibuk sendiri saat SMA dan kuliah. My parents were the dominating kind. Tipe yang suka mengatur, memilih, dan mengarahkan. Jadi walau I grew up just fine academically, mungkin mentally masih kurang matang (#selfconfession).

Pengalaman ini yang berkesan sekaligus menjadi PR sebagai ibu tentang bagaimana menumbuhkan kemandirian dalam diri anak-anak termasuk mampu menimbang pilihan dan membuat keputusan. Kalau kasus kakak, dia sebagai anak pertama adalah hasil produk aku arah-arahin juga. Mungkin (terlalu) banyak dibantu dan diawasin saat kecil sehingga dia terkadang sulit membuat keputusan. Well, even adults are still struggling at this particular skill in life.

The Steps I Took

I am not a parenting guru but I am just sharing some tips I read and tried on my kids. Berikut adalah beberapa cara yang aku terapkan agar kakak bisa lebih mandiri dan mampu membuat keputusan yang lebih baik:

Memilah Urusan

Beberapa tahun yang lalu, aku membaca buku tentang letting go. Lupa judulnya apa karena juga minjem waktu itu. Intinya, sebagai orang tua, kita harus bisa memilah mana urusan kita, mana urusan anak kita. Jangan dicampur-campur apalagi dibolak-balik. Hidup anak dan hidup kita sendiri jadi tambah stres. Contohnya di buku itu adalah nilai anak di sekolah. Kita perlu menanamkan bahwa belajar dan hasilnya adalah urusan anak. Dampaknya juga (mostly) untuk dia.

Nah, sesuatu banget ini karena sebagai orang tua kita sering merasa anak sebagai perpanjangan diri kita (which may not always be true ya). Anak dapat nilai jelek, orang tua uring-uringan juga karena ikut malu, kesal, khawatir. Sebenarnya wajar saja tetapi anak menangkapnya sebagai upaya belajar dia (hanya) untuk orang tua, bukan untuk dia. Anak jadi kekurangan motivasi internal. Lebih untuk menyenangkan hati orang tuanya saja.

Dianjurkan untuk sedikit step back dan membiarkan anak belajar lalu melihat hasilnya sendiri. Tujuannya agar dia bisa memahami bahwa ini beneran urusan dia. Kalau saya menerapkan juga dengan mengingatkan selalu bahwa kalau kakak belajar dan hasilnya bagus maka siapa yang paling senang. Kan dia juga. Aku tentu juga turut senang but actually it does not affect my life directly. It affects hers. Kalau nilainya bagus maka yang bangga juga dia. Demikian pula jika yang dipanggil bu guru kalau nilai jelek ya juga dia. Me? Tidak merasakannya secara langsung. So far sih cukup berhasil karena memang butuh repetisi ya untuk anak bisa memahami. Dan ini juga terapi untuk saya agar tidak terlalu mendominasi kehidupan dia.

Memilih Sendiri

Ada banyak hal yang anak bisa pilih sendiri. Apalagi kalau sudah besar seperti kakak. Pilih baju sendiri (walau kadang kurang match) atau mengatur jadwal belajar sendiri. Justru dari hal-hal kecil yang remeh mereka bisa belajar membuat keputusan walau hasilnya kadang salah juga. Misal ke tempat dingin, tetapi pakai baju yang kurang hangat. Salah mengatur jadwal belajar sehingga tidak selesai bahannya untuk ulangan. Nah, kesalahannya tidak terlalu dramatis dampaknya. Tujuannya agar anak bisa melihat sendiri akibatnya dan lain kali memperbaiki pola keputusannya.

Perkembangan Otak Remaja

Sebenarnya sudah banyak dibahas bahwa remaja membuat banyak keputusan yang salah karena sistem otak mereka yang belum berkembang secara sempurna. Pada satu tulisan diumpamakan otak anak seperti sistem DVD player yang masih belum terkoneksi dengan baik semua kabelnya. Pengatur otak ada di korteks prefrontal yang berada di bagian depan otak. Di sinilah semua informasi diterima dan ditimbang untuk menghasilkan keputusan dan perasaan anak.

Korteks prefrontal tidak berkembang sempurna hingga pertengahan usia 20-an. Masih lama dari sejak dimulainya masa remaja. Hubungan antar bagian otak juga masih belum sempurna berhubungan satu sama lain. Penelitian dengan MRI telah mengkonfirmasi adanya pertumbuhan neuron secara pesat yang terjadi sesaat sebelum pubertas. Pertumbuhan ini serupa dengan yang terjadi saat anak masih bayi.

Berikut kutipan penting dari sebuah penelitian berjudul Maturation of the Adolescent Brain oleh Arain dkk.(Neuropsychiatr Dis Treat. 2013; 9: 449–461)

During adolescence, the neurocircuitry strengthens and allows for multitasking, enhanced ability to solve problems, and the capability to process complex information. Furthermore, adolescent brain plasticity provides an opportunity to develop talents and lifelong interests; however, neurotoxic insult, trauma, chronic stress, drug abuse, and sedentary lifestyles may have a negative impact during this sensitive period of brain maturation.

Ada beberapa poin yang dapat kita tangkap dari kutipan tersebut.

  1. Masa remaja adalah masa pematangan otak mencapai kemampuan multitasking, memecahkan masalah, dan memproses informasi yang kompleks.
  2. Perkembangan otak ini adalah sebuah masa di mana anak masih mampu mengembangkan minat dan bakatnya.
  3. Hindari pengaruh negatif pada otak yang sedang berkembang seperti trauma, obat-obatan terlarang, stres kronik, dan gaya hidup yang kurang aktif.

Notes for Parents

Sungguh sebuah poin yang sangat menarik bagi orang tua untuk memahami lebih jauh bahwa anak remaja mengalami perubahan fisik. emosional, dan psikologis yang luar biasa selama periode pubertas. Kekurangan mereka dalam membuat keputusan yang baik dan menghindari tindakan berisiko memang bukan semata karena mereka belum berpengalaman, suka mambantah, mencari masalah, dsb tetapi juga disebabkan karena kematangan otak yang belum sempurna.

I find it hard to give a reliable solution in this predicament. Selain ilmu yang terbatas sebagai orang tua, juga memang solusi pasti untuk masalah ini rasanya belum ada. Modal orang tua hanyalah pemahaman, kesabaran, dan doa.

So, shall we? Bismillah.

 

 

 

Keep reading. Stay fit.

 

 

Fiona Esmeralda, dr, MM

talk to fiona: askfionamd@gmail.com

 

Feel free to leave your thoughts :)