5 Hal Penting tentang Pendidikan Seks yang Perlu Orang Tua Ketahui

Sex education atau pendidikan seks untuk anak adalah sebuah topik yang menghantui orang tua dengan anak pra-remaja atau remaja. Pertumbuhan mereka yang memasuki masa pubertas pastinya membawa banyak perubahan dan pertanyaan. Anak ingin tahu lebih banyak tentang diri mereka sendiri dan mulai juga bertanya tentang lawan jenis.

Jeng jeng…

What to do now?

Banyak orang tua mengambil jalan cepat dengan mengajak anak ikut sex education atau pendidikan seks untuk anak baik di sekolah maupun yang diselenggarakan oleh pihak tertentu. Cepat, singkat, dan menyeluruh. Alhamdulillah sesuatu ya…

Bahkan di luar negeri sudah menjadi kebiasaan anak yang menjelang pubertas mengikuti kelas khusus persiapan bersama orang tuanya. Kelas seperti ini diselenggarakan rutin setiap minggunya dan selalu padat peserta. Namun, di Indonesia belum seperti itu.

Pendidikan Seks untuk Anak

Sebenarnya apa sih yang dibahas di kegiatan pendidikan seksualitas seperti ini? Secara umum, topik pendidikan seks untuk anak yang dasar termasuk:

  • anatomi dan fungsi organ reproduksi
  • pubertas dan perubahan fisik
  • menstruasi dan PMS atau mimpi basah
  • personal hygiene
  • relationships

Sekilas itulah topik yang perlu dikuasai sebagai persiapan masa puber anak.Topik yang lebih berat lagi termasuk:

  • hubungan seksual
  • kontrasepsi
  • kehamilan remaja
  • penyakit menular seksual
  • kekerasan seksual

Selain itu, untuk menjalani kesehariannya sebagai remaja, mereka juga perlu tahu mengenai topik kesehatan umum seperti:

  • kesehatan kulit dan penanganan jerawat
  • bau badan dan ketombe
  • pola makan sehat
  • menghindari obesitas
  • mengenal eating disorder
  • stress management

What Parents Can Do

Orang tua punya beberapa pilihan. Beberapa akhirnya menghindari topik ini (baik yang dasar maupun yang advanced) dan malah melarang anak untuk mendiskusikannya. Sebagian lagi masih ragu apa yang perlu dibahas dan bagaimana cara membahasnya, jadi sejenis harap-harap cemas mudah-mudahan si anak tidak bertanya langsung. Sebagian lagi memilih bersikap proaktif dalam mendampingi anak.

It is a tough case.

Jangan Salah

Oleh karena banyak pro kontra mengenai pendidikan ini, orang tua perlu memahami beberapa poin penting tentang pendidikan seks untuk anak agar tidak salah kaprah.

1. Pendidikan seksualitas bukanlah pendidikan seks

Pendidikan seks untuk anak adalah belajar secara spesifik tentang hubungan seksual sedangkan pendidikan seksualitas adalah belajar mengenali dan memahami diri sendiri dalam konteks seks (gender) tertentu. Memahami di sini termasuk mengerti proses perubahan fisik, menerima perubahan yang terjadi, mampu beradaptasi, dan menerima dirinya sendiri.

Di luar negeri mungkin terdapat program yang mengajarkan apa itu hubungan seksual, diterangkan secara ilmiah dan faktual. Jadi mungkin saja ada konten sex dalam sexuality education. Namun, di Indonesia terutama, pendidikan seksualitas masih jauh dari pendidikan seks. Trust me.

Saya pribadi menganut bahwa orang tualah yang perlu menerangkan tentang apa itu hubungan seks karena sifatnya yang private. Selain itu, dalam forum yang terbuka seperti sesi kesehatan tidaklah mungkin dapat mengetahui dengan pasti tingkat pengetahuan masing-masing anak. Riskan menerangkan hal yang sangat mungkin masih jauh dari pikiran sebagian anak walaupun bisa jadi beberapa anak sudah lebih memahaminya.

2. Pendidikan seksualitas tidak mempercepat anak memulai berhubungan seks melainkan justru  memperlambat

Orang tua khawatir bahwa banyaknya pengetahuan anak justru akan membuat anak penasaran tentang seksualitas including hubungan seksual itu sendiri. Betulkah demikian? Ternyata menurut berbagai penelitian, yang terjadi justru kebalikannya.

Remaja menunda hubungan seksual karena tingkat penasarannya sudah menurun, mereka lebih paham termasuk paham risiko hubungan seksual di luar nikah seperti risiko kehamilan dan penyakit menular seksual. So, menutup-nutupi masalah ini dari anak kita tidak akan membuat mereka lebih aman.

Justru sebaliknya, mereka lebih penasaran dan mencari informasi secara mandiri dan bebas dari internet. Kita semua tahu bahwa internet is not a safe place when you are googling for sexual topics. Besar kemungkinan anak kita akan bertemu situs porno yang semakin membuatnya penasaran dan terjerumus pada hubungan seksual dini.

3. Pendidikan seksualitas adalah tanggung jawab orang tua

Banyak orang tua memilih tidak berdiskusi tentang hal ini dengan anaknya. Why? Karena ini memang adalah topik yang sulit dibahas, sensitif, bahkan terkesan tabu. Lantas siapa yang kita gantungkan harapan untuk menjelaskan hal ini dengan anak kita? Sekolah? Guru? Atau pihak lain? Semua pihak tersebut dapat membantu. Guru menjelaskan selama pelajaran, sekolah mungkin ada yang memfasilitasi kegiatan tambahan, orang tua dapat membelikan buku untuk anak baca atau mendaftarkan anak ikut sesi sexuality education yang disediakan pihak lain. There is nothing wrong with that. Hanya orang tua harus mengambil peran sebagai penanggung jawab sedangkan pihak lain yang terlibat atau media yang digunakan hanyalah sebagai pelengkap dan pembantu bagi orang tua.

4. Pendidikan seksualitas dapat dilakukan sejak dini, bertahap, dan berulang

Yang perlu diingat adalah bahwa orang tua tetap memikul tugas utama untuk mendampingi anak selama masa pubertasnya karena diskusi mengenai topik ini akan terjadi berulang-ulang, dengan berbagai sudut pandang, dan pada banyak situasi yang berbeda. Tidak bisa dirangkum sekaligus dan sim salabim selesai masalahnya. I wish ya….

Jika ditanya sejak usia berapa dapat diajarkan maka jawabannya adalah bisa dari usia balita. Dimulai dari pengenalan nama yang sesuai untuk organ genitalianya, cara menjaga kebersihan genitalia, dan lanjut dengan body privacy and safety. Anak perlu tahu bagian mana yang tidak layak dipegang, dilihat atau diperlihatkan kepada orang lain selain orang tua dari tenaga kesehatan. Seiring usia materi penjelasan dapat berkembang dan dihubungkan dengan kegiatan sehari-hari anak dan kejadian yang dialaminya.

5. Pendidikan seksualitas dapat diperoleh dari kegiatan seminar dan workshop remaja atau membaca buku

Dengan kemajuan zaman, orang tua sebenarnya memiliki banyak bala bantuan. Kalau ada topik yang bingung cara menjelaskannya, orang tua dapat langsung mencarinya di internet atau bahkan menonton videonya di Youtube. Mudah sekali, lengkap, dan jelas. Yang penting adalah mencari sumber yang terpercaya dalam menimba informasi.

Saat ini juga tersedia seminar dan workshop remaja yang sangat membantu dalam menjelaskan hal-hal mendasar tentang seksualitas dan pubertas pada anak. Buku pubertas juga menjadi salah satu pegangan yang dapat dibaca anak berulang-ulang.

Ingin cari kegiatan untuk remaja? Follow  saja IG @weekendforteens – www.instagram.com/weekendfoteens

AAP Recommendations

Dokter anak adalah salah satu pilar penyedia informasi mengenai pendidikan seksualitas. Di masa lalu, pendekatan yang digunakan adalah anjuran abstinensia bagi remaja. Namun, banyak penelitian menunjukkan bahwa anjuran tersebut tidak berlangsung efektif seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, pendekatan terbaru yang digunakan adalah sebagai berikut:

The American College of Obstetricians and Gynecologists, the Society for Adolescent Health and Medicine, the Academy, the American Medical Association, the American Public Health Association, National Education Association and National School Boards Association oppose abstinence-only education and endorse comprehensive sexuality education that includes both abstinence promotion and accurate information about contraception, human sexuality and STIs.(read more here)

Kesimpulannya, anak zaman now itu pastinya berbeda dengan zaman kita orang tuanya menjalani masa pubertas. Informasi zaman dahulu terbatas, topik ini dihindari, banyak hal terjadi melalui learning by doing alias sambil jalan saja.

Namun, anak kita adalah generasi digital dengan overload informasi. Jika kita menganggap anak kita cukup terproteksi dan innocent sehingga tidak perlu informasi yang terlalu dalam, think again. Anak kita tidak hidup sendirian, dia juga punya teman dan lingkungan sekolah. Sangat banyak cerita anak memperoleh informasi yang tidak tepat dan bahkan bersifat pornografik dari temannya sendiri dalam upaya memahami seksualitas diri tetapi dalam konteks yang tidak terarah.

Gunakan Pendekatan Beragam

Saya setuju dengan pendapat bahwa pendekatan yang digunakan perlu beragam termasuk pendekatan agama, sosial budaya, normatif, dan juga ilmiah. Semua memberikan rambu-rambu bagi anak dalam menyikapi seksualitas dirinya dan pendekatan yang beragam ini dapat memberikan juga penguatan bagi anak dalam bersikap dalam lingkungan.

While we cannot prepare our children for everything they might face, just make sure they have good solid foundation or correct knowledge.

Dengan demikian, mereka dapat lebih tajam mencerna informasi yang diperoleh dan dapat kembali berdiskusi dengan orang tua jika ada yang ingin ditanyakan.

 

 

Keep reading. Stay fit.

 

 

Fiona Esmeralda, dr, MM

Chief Teen Health Hub | askfionamd@gmail.com | 081377977730

Feel free to leave your thoughts :)