Kapan Anak Boleh Punya Gadget Sendiri

Rengekan anak meminta punya gadget sendiri adalah hal yang banyak dialami oleh orang tua masa kini, termasuk saya. Salah siapa? Rasanya salah kita juga sebagai orang tua. Anak melihat gadget sebagai alat yang luar biasa menyenangkan. Ada film yang selalu siap ditonton, games yang menarik, dan juga media sosial ketika anak beranjak remaja. Apalagi untuk orang tua kadang mendahulukan gadget dalam kesehariannya. Entah untuk urusan bisnis seperti menjawab surel, untuk berjualan online, atau hanya sekedar membaca linimasa media sosial dan berita terbaru. Anak-anak pastinya mengamati dengan  cermat.

Namun, apakah memang anak siap memiliki gadget sendiri? Kapan anak boleh punya gadget sendiri? Berapa usia yang tepat? Ternyata ada banyak pertimbangan yang perlu kita pahami terlebih dahulu.

Manfaat Media

Media ada manfaatnya atau tidak untuk anak? Media baik konvensional seperti televisi dan radio ataupun media sosial ternyata dapat memberikan paparan terhadap ide-ide dan informasi baru yang dapat meningkatkan wawasan anak terhadap isu tertentu. Walau televisi punya acara yang kurang bermanfaat seperti sinetron atau talk show yang sarat dengan perundungan, sebenarnya masih ada acara yang layak tonton untuk anak. Mungkin lebih ke arah sajian dokumenter seperti National Geographic, Animal Planet, BBC Earth. Itu pilihan acara untuk anak ketika mereka sedang tidak ada acara favorit. Untuk acara lokal ada juga seperti Jelajah Petualang, si Bolang, Laptop si Unyil yang menyajikan informasi menarik dan bermanfaat untuk anak. Anak-anak juga dapat belajar di acara masak seperti AFC dan renovasi rumah seperti HGTV. Jadi berikan pilihan selain kartun ya. Orang tua juga perlu setidaknya berusaha tertarik dan menontonnya padahal mungkin kita belum tentu tertarik. Kalau kita juga sudah tampak bosan maka nanti anak tidak akan tertarik untuk menonton.

Media interaktif juga dapat memberikan kesempatan anak untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan komunal. Siswa dapat bekerjasama dengan temannya dalam mengerjakan tugas dan projek melalui media online. Chat bersama lewat grup di whatsapp atau LINE sudah umum dilakukan bahkan oleh anak SD. Berbeda dengan zaman dulu yang harus menggunakan telepon rumah jika ingin bertanya sesuatu kepada teman. Kegunaan media sosial juga dirasakan dalam kemudahan berkomunikasi pada keluarga dan teman yang terpisah jarak. Intinya gadget hadir untuk memudahkan hidup kita.

Bahaya yang Muncul

Obesitas

 

Salah satu kekhawatiran utama kalangan medis adalah korelasi antara penggunaan media dan obesitas. Sebuah studi menemukan bahwa kemungkinan menjadi kelebihan berat badan meningkat 5 kali lipat pada remaja yang menonton televisi lebih dari 5 jam per hari dibandingkan remaja yang menonton 0-2 jam per hari. Studi ini mendukung rekomendasi AAP (American Academy of Pediatrics) bahwa anak perlu dibatasi menonton selama 2 jam atau kurang setiap hari.

Terjemahan lain adalah bahwa media termasuk bermain games dan gadget menyebabkan anak menjalani hidup yang kurang aktif atau sedentary. Anak lebih suka berada dan berkegiatan di dalam rumah daripada main sepeda di depan rumah misalnya. Hal yang sangat umum dijumpai. Sebenarnya faktor kurang bemain ini tidak murni salah si anak. Orang tua juga yang sering memberikan kegiatan di dalam rumah sejak kecil sehingga anak malas bergerak.  Kita sediakan mainan dan gadget agar anak tetap aman dan nyaman di rumah. Bagi orang tua dengan anak yang cenderung obesitas, hal ini amatlah penting karena inaktivitas dapat berkontribusi besar pada peningkatan berat badannya.

Pornografi

Penggunaan internet secara bebas tidak dapat terlepas dari bahaya pornografi. Sebelum dapat memiliki gadget sendiri baiknya anak mulai dengan meminjam menggunakan gadget orang tua sehingga waktu penggunaannya terbatas dan orang tua dapat mengawasi.

Orang tua perlu menjelaskan pada anak bahaya pornografi. Sebagai pengguna baru, tentu anak belum paham sepenuhnya. Anak perlu memahami apa itu pornografi, mengapa hal itu berbahaya, dan bagaimana cara menghindarinya. Kita sebagai orang tua yang perlu mengajari mereka dan mengingatkan berulang-ulang. Jika kita memilih untuk tidak peduli maka anak pastinya akan berjumpa dengan pornografi di dunia maya dan mencari informasi dari sumber yang tidak terpercaya.

Ingat juga bahwa jalan masuk paparan pornografi untuk anak laki-laki biasanya melalui games  di computer dan gadget. Ada banyak games yang terkesan biasa saja tetapi dalam level-level di dalamnya bisa ada ajakan atau tantangan dengan nuansa seksual. Lelah memang kalau harus melihat satu per satu games yang dimainkan anak tetapi sedikit membaca dan bertanya tentu akan bermanfaat.

Sedangkan untuk anak perempuan, jalan masuk pornografi adalah dari videoklip lagu yang kadang menampilkan artis berbaju (sangat) minim dengan gerakan dan cerita yang luar biasa. Sungguh harus menjadi perhatian bagi orang tua.

Sekedar mengingatkan, baiknya orang tua juga membatasi menonton atau melihat konten (agak) porno di gadget-nya sendiri karena anak dapat membuka layar yang telah ditutup atau muncul di instagram dan dapat dilihat anak secara tidak sengaja.

Kesehatan Mental

Hasil studi menunjukkan bahwa media sosial memiliki manfaat dan juga ancaman terhadap kesehatan mental anak. Manfaat ini termasuk kesempatan untuk memperoleh dukungan sosial dan rasa keterhubungan dengan orang lain. Namun di sisi lain, penggunaan internet juga berhubungan dengan depresi pada anak. Kadang anak menjadi rendah diri jika kerap membandingkan dirinya dengan teman sebaya yang misalnya aktif di media sosial dan selalu berbagi beragam foto menarik.

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memastikan anak tidak terjebak dalam kehidupan maya:

  • batasi anak berbagi foto yang memfokuskan pada membanggakan diri sendiri agar anak paham bahwa media sosial adalah media berbagi tetapi bukanlah media  untuk saling menonjolkan diri (ini juga berlaku untuk orang tua sebagai contoh)
  • ingatkan anak bahwa media sosial bukanlah dunia nyata karena orang seringkali hanya menampilkan hal-hal yang menyenangkan dalam hidupnya seperti memperoleh nilai bagus, memiliki potongan rambut terbaru, pergi berlibur, makan di tempat mewah, membeli gadget terkini, dsb. Padahal hidup juga terdiri dari rasa sedih dan kecewa yang kadang tidak kita tampilkan di media sosial karena tidak mau orang lain tahu.

Berikut Beberapa Rekomendasi bagi Orang Tua Sebelum Mengizinkan Anak Memiliki Gadget Sendiri

  • bahaslah batasan lama waktu menggunakan gadget yang disepakati bersama termasuk mempertimbangkan waktu belajar dan menyelesaikan tugas sekolah
  • ajari anak untuk menolak ajakan berkenalan melalui media sosial dari orang yang tidak dikenal
  • cek berkala pilihan video youtube yang ditonton anak dan berikan batasan yang jelas
  • atur youtube dengan restricted mode yang dapat membantu menyaring video yang ditayangkan
  • jangan ragu untuk melarang anak menonton konten tertentu untuk kebaikan dirinya
  • turut memilih dan menonton pilihan anak agar dapat berbagi sekaligus mengawasi.
  • waspada pada pornografi tingkat dini seperti tontonan dengan pakaian minim dan sarat nuansa seksual
  • awasi games yang dimainkan anak sebagai paparan pornografi awal
  • upayakan anak terlibat kegiatan fisik minimal 1 jam setiap harinya dan cukup waktu tidurnya (8-12 jam, tergantung usia)
  • sisihkan waktu khusus tanpa gadget seperti saat makan malam atau di dalam kamar. Pilihan aktivitas lain misalnya membaca, ngobrol, dan bermain bersama
  • selalu berdiskusi dengan anak mengenai keamanan di internet termasuk menjaga privasi dan menghindari pornografi

Usia Minimum Media Sosial

Sebagian besar orang tua menyadari bahwa 13 tahun adalah usia minimum untuk sebagian besar akses media sosial namun tidak memahami alasannya. Sebenarnya ada dua dasarnya. Pertama, 13 tahun adalah usia yang ditetapkan oleh Congress in the Children’s Online Privacy Protection Act (COPPA) yang melarang situs online mengumpulkan informasi dari anak berusia kurang dari 13 tahun. Kedua, ketentuan penggunaan resmi yang lazim mengikuti peraturan COPPA menyatakan bahwa 13 tahun adalah usia minimum untuk menjadi pengguna pada berbagai situs. Namun, masih ada situs anak yang tidak memiliki batasan usia seperti Disney, Club Penguin, dll.

Adalah hal yang penting bagi orang tua untuk mengevaluasi situs tempat anaknya ingin berpartisipasi dan memastikan bahwa situs tersebut sesuai untuk usianya. Secara umum, jika sebuah situs menetapkan usia minimum pada ketentuan layanannya maka the American Academy of Pediatrics (AAP) menganjurkan untuk mematuhinya. Orang tua perlu tetap memberikan pesan kejujuran pada anak dan mengutamakan keselamatan di dunia maya.

Tip Praktis Memperkenalkan Anak dengan Gadget

Hidup telah berubah begitu jauh dari sejak kita sendiri mengalami masa kanak-kanak. Mencegah anak dari gadget secara total tidaklah mudah dan mungkin kurang bijaksana menimbang bahwa memang gadget memiliki sejumlah manfaat nyata. Yang anak perlukan adalah perkenalalan, penjelasan, pendampingan, dan pengawasan hingga tiba saatnya mereka menggunakan gadget secara independen dan bertanggung jawab.

Berikut beberapa peraturan untuk gadget yang berlaku di rumah kami:

  • gadget hanya digunakan saat weekend atau libur saja
  • anak-anak tidak mempunyai telepon genggam sendiri. Mereka diperbolehkan menggunakan telepon yang ada milik orang tua jika diperlukan.
  • anak-anak tidak punya akun media sosial sendiri kecuali instagram untuk sang kakak belajar berjualan. Di instagram dia belajar untuk mengamati postingan temannya yang baik maupun yang kurang sesuai. Tidak boleh menggunakan tombol explore di instagram dan saya akan memblok atau melaporkan akun yang sekiranya kurang wajar.
  • menonton youtube dengan restricted mode aktif namun tetap diawasi untuk mem-filter video yang mungkin muncul. Tidak boleh menonton video klip lagu di youtube. Ada beberapa channel yang boleh bebas seperti crafts, make up tutorial, kartun anak, dan DIY.
  • menonton youtube tidak dengan headphone agar saya juga dapat mendengarkan apa yang sedang ditonton. Sekira ada yang kurang pantas misal terlalu kasar cara bicaranya akan langsung saya tegur dan channel tersebut tidak bisa ditonton lagi. Saya jelaskan bahwa menonton video yang kurang baik akan berdampak pada keseharian mereka juga nantinya dan masih ada banyak channel yang saya perbolehkan untuk ditonton.
  • Anak saya yang besar mengikuti grup WA kelasnya menggunakan nomer telepon saya agar dapat saya awasi.

Tidak mudah pastinya dan sebagai orang tua mungkin kita juga kesalahan dan kekurangan tetapi begitulah proses menjadi orang tua. Kita tidak sempurna tetapi kita terus berusaha dan berharap. Di tengah terjangan gadget dan kemajuan zaman, kita harus selalu waspada dan siap menjadi sumber informasi utama anak. Bersikap tidak acuh atau seadanya tidak cukup untuk menjalani peran sebagai orang tua generasi terkini.

 

 

 

Keep reading. Stay fit.

 

 

 

 

Fiona Esmeralda, dr., MM.

medical writer | teen health enthusiast

Comments

Feel free to leave your thoughts :)